Makan gak makan asal kumpul. Kalimat satu ini cukup terkenal, sampai sampai grup band Slank bikin lagu yang judulnya itu. Dalam salah satu bagian hidup saya, saya pernah merasakanya. Konteksnya adalah dalam hal pertemanan. Kumpul2 sama temen2 adalah hal yang sangat mengasyikkan pada saat itu. Entah ada rencana atau tidak, hangout ato sekedar guyon biasa waktu istirahat sekolah sudah bisa bikin suasana hati jadi ceria.
Tapi itu dulu, waktu masih “kecil”. Sekarang waktu sudah merasa “gede”, ternyata hal itu sudah sulit ditemui lagi. Lingkungan yang tidak mendukung mungkin menjadi salah satu rintangannya. Lingkungan yang saya maksud di sini adalah masing-masing person yang ada dalam lingkungan itu. Pikiran saya langsung mengarah kepada istilah “kedewasaan”. Dewasa yang sering diartikan sebagai bisa membedakan yang baik dan yang buruk, mungkin sudah berkembang lagi menjadi bisa membedakan yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat.
Sebagai akibat sampingan dari pengertian itu, manusia cenderung akan memilih. Yang tidak bermanfaat bagi dirinya akan dikesampingkan. Korelasinya dengan permasalahan awal adalah, keadaan kumpul-kumpul bersama mungkin sudah tidak menjadi favorit lagi bagi orang-orang yang merasa udah “gede”, karena itu adalah hal yang kurang bermanfaat. Mungkin itu adalah sebuah hal yang wajar. Wajar karena setiap orang memiliki orientasi yang berbeda. Dan semakin gede seseorang, semakin dia bisa memilah-milah mana yang bisa mendukung tujuannya, mana yang tidak.
So, bagaimana jika pada tataran mahasiswa, kita memaksakan seseorang untuk “makan gak makan asal kumpul?” Sebagian besar jawabannya mungkin tidak.
=====================================================================
Hehe, maap ya kalo tulisan saya gak sistematis dan tidak konstruktif. Baru blejaran nulis ni, biar bisa jadi orang yang lebih berguna buat nusa dan bangsa, hehe. Silakan dikomentari.

Posted by restya on September 21, 2008 at 10:21 pm
Udah dikomentarin niy…hehe